Buat
yang pernah naik kereta ekonomi Bogor-Jakarta pasti pernah nemuin orang yang
mau gue ceritain sekarang, soalnya tiga kali gue naik kereta ekonomi
Bogor-Jakarta, 2 kali gue ketemu orang ini. Gue lupa namanya Mila apa Maya
ya?*mikir keras*, pokoknya antara itu. Kalau seinget gue sih Maya. Yaudah kita
namain maya aja ya entah itu benar atau salah. Ciri-ciri fisiknya pendek-bisa
dibilang pendek banget-, badannya berisi, suaranya menggelegar (dia masih di
gerbong sebelah aja suaranya udah kedengaran ke gerbong yang gue singgahi),
mukanya tua (entah dia memang sudah tua atau tiklot haha). Dia itu menjadikan
kereta ekonomi sebagai kantornya bekerja. Mungkin karena tidak ada pilihan lain
atau malas. Sepertinya dia dapat uang banyak bekerja disitu. Bayangkan saja berapa
banyak orang yang ada di kereta ekonomi setiap sekali berangkat. Setidaknya
seperempat atau lebih dari penumpang disana memberikan uangnya pada Maya, itu
pasti. Ya, maya itu seorang pengemis. Tapi dia meminta uang dengan cara
memaksa, gimana orang-orang gak pada takut coba.
Nah,
gue mau cerita tentang pengalaman gue pribadi saat bertemu Maya. Pertama kali
ketemu Maya itu waktu gue sama Vikri *temen gue* mau tes penerimaan mahasiswa baru di Univ.
Pancasila (10 Juni 2012). Kita naik kereta ekonomi karena belum penuh, gue
dapet tempat duduk dan Vikri lebih memilih untuk berdiri. Oke, perjalanan
dimulai. Gak lama kereta berangkat, datanglah seonggok daging dari gerbong
sebelah sambil bilang “om, om, om, bu, bu, bu” *mengulurkan tangan dari
penumpang satu ke yang lainnya*. Semakin lama dia semakin mendekat, gue pun
semakin penasaran dengan sosok tersebut sampai-sampai gak mengalihkan pandangan
dari dia. Tapi sumpah deh lama-lama takut, jarak gue sama dia semakin amat
sangat dekat. Gue cuma nunduk saat jarak tak lagi bersahabat. Dan akhirnya Maya
menghampiri Vikri, waktu itu gue belum tau ya namanya Maya tapi setelah
kejadian konyol ini nama Maya selalu terngiang dalam ingatan gue. Vikri yang
lagi berdiri dekat pintu masuk gerbong tiba-tiba dihampiri Maya sambil berkata
“om, om, Maya laper om belum makan. Minta uangnya om.” Vikri cuma senyum dan
berkata “maaf”, lalu Maya meronta-ronta dan memukuli perut Vikri “om minta
uang, maya laper belum makan” tapi tetep aja Vikri gak ngasih duitnya. Setelah
itu Maya menghampiri gue, gue panik harus ngapain. Antara ngasih atau engga.
Sempat mikir kalau gak dikasih nanti gue dipukulin lagi sama dia OH NOOO!
Yaudah gue kasih aja terus maya bilang “Makasih bu *senyum*.” Sumpah ya pas dia
senyum bulu kuduk gue merinding, rasa takut tiba-tiba merasuki tubuh ini (gue
emang phobia sama orang gila dan orang aneh (kayak Maya)). Turun dari kereta
Vikri bilang “lain kali kalau ada yang kaya gitu jangan dikasih, kalau lo
ngasih berarti secara gak langsung lo
ngedukung mereka”. Ini pertama kali gue
naik kereta ekonomi Bogor-Jakarta dan pertama kali ketemu Maya, perkenalan awal
yang sangat mengesankan.
Pengalaman
naik kereta ekonomi yang ke dua gak usah diceritain ya soalnya disitu gak ada
Maya. Langsung aja ke pengalaman yang ke tiga. Kemarin, 1 Agustus 2012 ada
placement test Lia di Pancasila, dan akhirnya gue berangkat. Kali ini gue
berangkat sendiri, pas naik keretanya udah penuh jadi gue berdiri. Belum jalan
keretanya tiba-tiba gue mendengar suara dari gerbong sebelah dan suara itu gak
asing lagi di telinga gue “om, om, bu” refleks gue ngintip ke gerbong sebelah
*slow motion*. Mampussss itu Maya, kaki lemas seketika. Oh my god, cepat atau
lambat maya pasti masuk ke gerbong ini. Dan gak lama hal yang gue takuti itu
tiba, semua mata tertuju pada Maya. Mungkin mereka baru pertama kali melihat
perembuan itu, tapi engga buat gue. Awalnya dia nyamperin bapak-bapak, tanpa
berpikir lama si bapak ngasih uang 2000nya, mungkin dia juga takut sama Maya.
Maya berlanjut geser ke kursi sebelah dia merengek-rengek pada seorang ibu dan
terjadi sedikit percakapan diantara mereka,
Maya : “bu, Maya
haus minta uang”
Ibu : “emang
kamu gak puasa?”
Maya : “puasa
bu”
Ibu : “ah
kamu bohong”
Maya : “bener
bu, Maya gak bohong”
Lalu ibu-ibu itu memberikan uang 500nya yang diambil dari
dompet kecil. Daaaaaan jeng jeng jeng *zoom 10x* saat orang-orang terpaku
menatap maya karena ulah anehnya, maya menghampiri gue yang lagi berdiri sambil
nunduk “bu, bu, minta uang Maya haus nih.” Parah ya, gue masih 17 tahun dipanggil
ibu. Kayaknya anak bayi yang masuk kereta itu pun bakal di panggil ibu sama dia
-__-. Oke, balik cerita, gue inget apa kata Vikri, “Jangan kasih mereka” dan
gue ikuti cara dia untuk menolak “maaf” *sambil senyum. Dan lo tau apa yang
Maya lakukan terhadap gue? Dia gak mukulin perut gue kok, tapiiiii dia meluk
gue sambil senyum dan berkata “Bu, Maya haus.” Please jangan peluk gue, liat
aja udah takut apa lagi dipeluk gini, mimpi apa semalem ya Allah :(. Dan
pelukan itu berlangsung cukup lama semua orang ngeliatin gue sambil ketawa
malah ada yang bilang “uh so sweet” kurang malu apa coba ini, udah takut
dipeluk maya, diketawain orang banyak pula. Gue cuma senyum aja sambil bilang
“maaf” hal itu gue lakukan berkali-kali tapi tetap saja Maya enggan untuk melepaskan
pelukannya itu. Mungkin lama-lama dia capek meluk gue, toh selama apapun dia
meluk gak bakal gue kasih *bukan pelit tapi ini untuk mendidik mereka*.
Akhirnya akhirnya dan akhirnya Maya pergi melanjutkan pekerjaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar