Jumat, 03 Agustus 2012

Kereta Ekonomi oh Ekonomi


                Buat yang pernah naik kereta ekonomi Bogor-Jakarta pasti pernah nemuin orang yang mau gue ceritain sekarang, soalnya tiga kali gue naik kereta ekonomi Bogor-Jakarta, 2 kali gue ketemu orang ini. Gue lupa namanya Mila apa Maya ya?*mikir keras*, pokoknya antara itu. Kalau seinget gue sih Maya. Yaudah kita namain maya aja ya entah itu benar atau salah. Ciri-ciri fisiknya pendek-bisa dibilang pendek banget-, badannya berisi, suaranya menggelegar (dia masih di gerbong sebelah aja suaranya udah kedengaran ke gerbong yang gue singgahi), mukanya tua (entah dia memang sudah tua atau tiklot haha). Dia itu menjadikan kereta ekonomi sebagai kantornya bekerja. Mungkin karena tidak ada pilihan lain atau malas. Sepertinya dia dapat uang banyak bekerja disitu. Bayangkan saja berapa banyak orang yang ada di kereta ekonomi setiap sekali berangkat. Setidaknya seperempat atau lebih dari penumpang disana memberikan uangnya pada Maya, itu pasti. Ya, maya itu seorang pengemis. Tapi dia meminta uang dengan cara memaksa, gimana orang-orang gak pada takut coba.
                Nah, gue mau cerita tentang pengalaman gue pribadi saat bertemu Maya. Pertama kali ketemu Maya itu waktu gue sama Vikri *temen gue*  mau tes penerimaan mahasiswa baru di Univ. Pancasila (10 Juni 2012). Kita naik kereta ekonomi karena belum penuh, gue dapet tempat duduk dan Vikri lebih memilih untuk berdiri. Oke, perjalanan dimulai. Gak lama kereta berangkat, datanglah seonggok daging dari gerbong sebelah sambil bilang “om, om, om, bu, bu, bu” *mengulurkan tangan dari penumpang satu ke yang lainnya*. Semakin lama dia semakin mendekat, gue pun semakin penasaran dengan sosok tersebut sampai-sampai gak mengalihkan pandangan dari dia. Tapi sumpah deh lama-lama takut, jarak gue sama dia semakin amat sangat dekat. Gue cuma nunduk saat jarak tak lagi bersahabat. Dan akhirnya Maya menghampiri Vikri, waktu itu gue belum tau ya namanya Maya tapi setelah kejadian konyol ini nama Maya selalu terngiang dalam ingatan gue. Vikri yang lagi berdiri dekat pintu masuk gerbong tiba-tiba dihampiri Maya sambil berkata “om, om, Maya laper om belum makan. Minta uangnya om.” Vikri cuma senyum dan berkata “maaf”, lalu Maya meronta-ronta dan memukuli perut Vikri “om minta uang, maya laper belum makan” tapi tetep aja Vikri gak ngasih duitnya. Setelah itu Maya menghampiri gue, gue panik harus ngapain. Antara ngasih atau engga. Sempat mikir kalau gak dikasih nanti gue dipukulin lagi sama dia OH NOOO! Yaudah gue kasih aja terus maya bilang “Makasih bu *senyum*.” Sumpah ya pas dia senyum bulu kuduk gue merinding, rasa takut tiba-tiba merasuki tubuh ini (gue emang phobia sama orang gila dan orang aneh (kayak Maya)). Turun dari kereta Vikri bilang “lain kali kalau ada yang kaya gitu jangan dikasih, kalau lo ngasih berarti secara gak langsung  lo ngedukung mereka”.  Ini pertama kali gue naik kereta ekonomi Bogor-Jakarta dan pertama kali ketemu Maya, perkenalan awal yang sangat mengesankan.
                Pengalaman naik kereta ekonomi yang ke dua gak usah diceritain ya soalnya disitu gak ada Maya. Langsung aja ke pengalaman yang ke tiga. Kemarin, 1 Agustus 2012 ada placement test Lia di Pancasila, dan akhirnya gue berangkat. Kali ini gue berangkat sendiri, pas naik keretanya udah penuh jadi gue berdiri. Belum jalan keretanya tiba-tiba gue mendengar suara dari gerbong sebelah dan suara itu gak asing lagi di telinga gue “om, om, bu” refleks gue ngintip ke gerbong sebelah *slow motion*. Mampussss itu Maya, kaki lemas seketika. Oh my god, cepat atau lambat maya pasti masuk ke gerbong ini. Dan gak lama hal yang gue takuti itu tiba, semua mata tertuju pada Maya. Mungkin mereka baru pertama kali melihat perembuan itu, tapi engga buat gue. Awalnya dia nyamperin bapak-bapak, tanpa berpikir lama si bapak ngasih uang 2000nya, mungkin dia juga takut sama Maya. Maya berlanjut geser ke kursi sebelah dia merengek-rengek pada seorang ibu dan terjadi sedikit percakapan diantara mereka,
Maya     : “bu, Maya haus minta uang”
Ibu         : “emang kamu gak puasa?”
Maya     : “puasa bu”
Ibu         : “ah kamu bohong”
Maya     : “bener bu, Maya gak bohong”
Lalu ibu-ibu itu memberikan uang 500nya yang diambil dari dompet kecil. Daaaaaan jeng jeng jeng *zoom 10x* saat orang-orang terpaku menatap maya karena ulah anehnya, maya menghampiri gue yang lagi berdiri sambil nunduk “bu, bu, minta uang Maya haus nih.” Parah ya, gue masih 17 tahun dipanggil ibu. Kayaknya anak bayi yang masuk kereta itu pun bakal di panggil ibu sama dia -__-. Oke, balik cerita, gue inget apa kata Vikri, “Jangan kasih mereka” dan gue ikuti cara dia untuk menolak “maaf” *sambil senyum. Dan lo tau apa yang Maya lakukan terhadap gue? Dia gak mukulin perut gue kok, tapiiiii dia meluk gue sambil senyum dan berkata “Bu, Maya haus.” Please jangan peluk gue, liat aja udah takut apa lagi dipeluk gini, mimpi apa semalem ya Allah :(. Dan pelukan itu berlangsung cukup lama semua orang ngeliatin gue sambil ketawa malah ada yang bilang “uh so sweet” kurang malu apa coba ini, udah takut dipeluk maya, diketawain orang banyak pula. Gue cuma senyum aja sambil bilang “maaf” hal itu gue lakukan berkali-kali tapi tetap saja Maya enggan untuk melepaskan pelukannya itu. Mungkin lama-lama dia capek meluk gue, toh selama apapun dia meluk gak bakal gue kasih *bukan pelit tapi ini untuk mendidik mereka*. Akhirnya akhirnya dan akhirnya Maya pergi melanjutkan pekerjaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar